Feeds:
Tulisan
Komentar

Adalah kenyataan bahwa umat Islam sejak dulu mengukir sejarah gemilang. Kemajuan sains dan teknologi serta peradaban mencapai puncak kejayaannya pada abad ke 10 dengan tiga pusatnya, yaitu Timur Tengah (Mesir), Pantai Utara Afrika dan Andalusia, justru pada saat kaum Kafir Barat mengalami kegelapan. Kafir Barat beranggapan bahwa kemajuan sains dan teknologi adalah hasil dari pemisahan agama dengan kehidupan (yang kemudian dikenal dengan istilah Sekularisasi), tapi kemajuan yang dicapai kaum Muslimin adalah ketika berada dalam naungan negara yang menerapkan hukum Islam secara Kaffah.

Namun kenyataan yang terjadi sekarang sungguh sangat bertolak belakang, tidak ada tanda-tanda kejayaan yang telah dicapai Kaum Muslimin dahulu. Umat Islam hanya mampu menjadi konsumen, pengekor dari teknologi yang ada. Dalam benak kaum Muslimin tidak lagi terbayangkan bahwa Islam mampu mengantarkan mereka kepada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Islam memberikan gambaran yang sangat jelas tentang pentingnya ilmu pengetahuan, hal ini dibuktikan dengan tingginya peradababan Islam yang pernah menguasai dunia ketika Eropa mengalami Abad kegelapan.

Abad Kegelapan Eropa
Pada saat itu Barat didominasi pihak Gereja, pandangan dan pendapat para pendeta digunakan sebagai aturan yang tidak boleh ditentang. Berbagai penemuan ilmiah yang bertentangan dengan ajaran gereja ditindak tegas, para ilmuwan dituding sebagai penyebar kesesatan dan ajaran setan. Pada tahun 1639 M, Galileo Galilei dipaksa untuk mengubah pernyataan yang mendukung Copernicus tentang teori Heliosentris (matahari sebagai pusat peredaran) dan sebaliknya gereja mempertahankan teori yang salah yaitu teori Geosentris (Bumi sebagai pusat peredaran). Para ilmuwan dan Filsuf yang mendapat banyak tekanan mulai membeberkan ajaran gereja yang kontradiktif dan menyerukan untuk memisahkan gereja dengan negara. Akhirnya kekuasaan gereja hanya untuk mempertahankan dan mengurusi moral masyarakat dan aktivitas-aktivitas ritual, sedangkan urusan keduniawian diserahkan kepada negara. Pemisahan inilah yang menjadi awal munculnya Kapitalisme dan mengantarkan terjadinya Revolusi Industri di Eropa.

Islam sebagai sebuah ideologi
Islam merupakan ideologi yang unik dan komprehensif, yang tidak saja berupa ide tapi juga metode penerapannya dalam kehidupan praktis.
Secara ringkas ide-ide Islam terdiri dari dua komponen, yaitu :
1. Keimanan atau Aqidah, yang memberikan penjelasan tentang keberadaan manusia di alam jagat raya, tujuan hidup manusia dan menghubungkannya dengan kehidupan sebelum dan sesudah dunia ini. Karena itu Aqidah Islam menyelesaikan persoalan pokok manusia dan memberikan dasar sistem/aturan yang mengatur seluruh kehidupan manusia.
2. Sistem Islam, yang memberikan hukum secara menyeluruh untuk mengatur hubungan manusia, baik dengan penciptanya (hablumminalloh), dengan dirinya sendiri maupun dengan sesamanya (hablumminannas).

Ide-ide tersebut menuntut pelaksanaan dalam kehidupan, sehingga Islam merupakan suatu ideologi yang menjadi pedoman dan pendorong kebangkitan bagi manusia. Yang membedakan Islam dengan ideologi lain, yaitu Kapitalisme dan Sosialisme adalah Islam dibangun atas dasar fikrah yang benar.
Islam tidak mengabaikan keinginan dan kebutuhan manusia, tapi Islam mengaturnya dalam konteks yang tepat, termasuk keinginan untuk mengatur ilmu pengetahuan dan teknologi. Konsep dan pandangan bahwa agama tidak mengakui ilmu pengetahuan tidaklah sesuai dengan Islam, karena sejarah telah membuktikan bahwa kejayaan Islam dicapai pada masa pemerintahan Islam, bukan ketika Islam dipisahkan dari kehidupan secara paksa.
Dalam pandangan Islam, wilayah yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dibagi menjadi dua, yaitu wilayah pengetahuan yang berkaitan dengan urusan manusia (ekonomi, politik, hukum, dsb) dan wilayah lainnya yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan murni.
Pada wilayah pertama, pengetahuan haruslah bersumber dari wahyu Sang Pencipta, sebab Alloh SWT telah memerintahkan untuk mengembalikan seluruh urusan manusia kepada-Nya. Sedangkan pada wilayah kedua, yang berkaitan dengan ilmu murni lebih bersifat terbuka. Manusia dapat mengasah pemikirannya dan mengambil kontribusi dari umat lain.
Sekalipun Al-Qur’an mengajak kepada manusia untuk memikirkan dunia ini dan melakukan penemuan tentang hukum alam, namun Al-Qur’an tidaklah dapat dikatakan sebagai suatu buku sumber ilmu pengetahuan seperti Fisika, Kimia, dsb. akan tetapi Al-Qur’an diturunkan untuk mengatur hubungan manusia, sehingga Hukum Islam terkait dengan penggunaan yang tepat atas fakta-fakta keilmuan dan tidak terkait dengan penemuan itu sendiri.
Sejarah mencatat pada masa kekhalifahan Islam, ketika Islam dijadikan sebagai satu-satunya pengatur hubungan manusia, banyak sekali dihasilkan dan ditemukan teori ilmu pengetahuan, diantaranya :
1. Dalam bidang matematika, Kaum Muslimin membuat artitmetika menjadi lebih sederhana dan menemukan trigonometri analitik dan datar, dengan tokohnya yang terkenal Al-Khawarizmi dan Ibnu Sina.
2. Dalam bidang Fisika, ditemukan senjata dan meriam yang menggunakan bahan peledak, dilakukan penelitian terhadap alat-alat optik dan membuktikan kecepatan cahaya jauh lebih tinggi daripada kecepatan suara, dengan tokohnya Ibnu Haitham dan Al-Biruni.
3. Dalam bidang Astronomi, Kaum Muslimin-lah yang menemukan peta perbintangan, menetapkan koefisien astronomi dengan tokohnya Al-Battani dan Ibnu Sina, dan pada masa kekhalifahan al-Makmun dibangunlah observatorium di Baghdad dan di dataran Tadmor.
4. Dalam bidang Kimia, banyak yang dihasilkan Ilmuwan Muslim, dan mereka berhasil mengoreksi ilmu-ilmu Kimia dari Yunani seperti metode penguapan, peleburan dan penyulingan dan pengelompokkan zat-zat Kimia, dengan tokoh-tokohnya antara lain Jabir Bin Hayyan, Abu mansur Al-Razi dsb.
5. Dalam bidang Kedokteran, Kaum Muslimin berhasil menemukan banyak hal yang sekarang diklaim oleh Ilmuwan Barat, seperti hal-hal yang berkaitan dengan anatomi tubuh manusia, sirkulasi darah, saluran-saluran syaraf dsb. Dengan Ilmuwannya yang terkenal yaitu Ibnu Nafis Al-Qarsih, Abu Fajar dan Abul Hasan. Pada masa pemerintahan Khalifah Harun Al-Rasyid dibangun Rumah Sakit di Baghdad yang dijadikan percontohan rumah sakit di Eropa.
6. Dalam bidang Botani dan Pertanian kemajuan yang dicapai dapat diketahui dari taman, kebun dan jenis tanaman yang ada di Spanyol, dengan tokohnya Al-Biruni, Abul Manshur yang menemukan berbagai jenis obat sederhana dan Ibnu Al Bairar dengan identifikasi tanaman menurut spesiesnya.
7. Dalam bidang Geografi, ternyata yang menemukan garis bujur dan garis lintang adalah Ilmuwan Muslim, kamus Geografi berhasil disusun oleh Al-Bikri dan masih banyak lagi penemuan yang dihasilkan oleh mereka.
8. Dalam bidang Ekonomi, pandangan para pemikir Islam seperti Ibn Taimiyah mengenai hukum yang beraspek ekonomi dan Al-Ghazali seorang filsuf tentang teori-teori ekonomi, menginspirasi Adam Smith, seorang ekonom kapitalis untuk menulis bukunya ”The Wealth Of Nation” yang menjadi rujukan ilmu ekonomi sampai saat ini, sehingga ia menamakan ilmu ekonomi sebagai moral sains.
9. Dalam bidang Sastra, Ibnu Hazm sebagai salah seorang Pemikir Muslim yang paling cemerlang menulis dongeng, cerita rakyat dan apologue yang menyebar secara meluas di seluruh Eropa berpengaruh besar terhadap kesusastraan Barat.
10. Dalam bidang Musik, salah satu penulis dan filsuf muslim yaitu Al-Farabi, menulis teori Musik yang termuat dalam kitab Al-Musiki (Manual Of Music). Bangsa Arab pula yang mempelajari dan mendirikan skala alamiah dalam tekhnik instrumen seperti pada instrumen Rebec (sejenis Biola), gitar, lute (semacam kecapi), drum, tamborine, rebana, castanet, mereka juga membuat prototype terhadap piano dan organ modern yang disebarkan ke Iberia dan Eropa Barat.

Kemajuan yang dicapai kaum Muslimin begitu gemilang, namun yang terjadi saat ini ilmu pengetahuan dan tekhnologi di dunia Islam mengalami kemunduran sampai ke titik terendah sebagai akibat dari praktek yang salah dalam pemahaman dan penerapan ajaran Islam. Kajian dan penguasaan Bahasa Arab dibiarkan menurun, sementara Ijtihad ditinggalkan dan pintu bagi missionaris serta invasi budaya dan Politik Barat dibuka lebar-lebar.
Stagnasi ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia Islam yang terjadi sekarang hanya dapat dihentikan dengan menggunakan hukum Islam sebagai sistem kehidupan, yaitu menjadikan Islam sebagai suatu Ideologi, karena dengan ideologilah manusia akan mampu mencapai kebangkitan, seperti Barat yang telah mengambil Kapitalisme sebagai Ideologi, dan mereka meraih kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan khususnya ilmu pengetahuan. Sehingga kebangkitan Islam dalam bidang ilmu pengetahuan dan tekhnologi menjadi sebuah keniscayaan bila kaum Muslimin mau kembali hidup di bawah aturan Islam dan menjadikan Islam sebagai satu-satunya solusi dalam kehidupan manusia. Wallohu’alam.

Sumber rujukan :
1. Shabir Ahmed, Anas Abdul Muntaqim, Islam dan Ilmu Pengetahuan, Al-Izzah Bangil Jawa Timur, 2000
2. Haidar Bammate, Kontribusi Intelektual Muslim terhadap Peradaban Dunia,Darul Falah Jakarta, 2000

Perjalanan hidup manusia tidak bisa lepas dari rencana dan skenario Allah Swt, begitu juga dengan peristiwa-peristiwa hidup manusia tidak bisa melepaskan diri dari apa yang telah Allah canangkan dalam bentuk takdir bagi setiap ummat manusia. Tapi ironisnya kadang kita memahami bahwa sejarah hidup manusia akan senantiasa berjalan dalam alur cerita masing-masing tersebut ada dalam genggamanNya, tetapi kadang pula kita lupa bahwa harga diri manusia dimata pencipta Nya bisa diukur dari sejauhmana dirinya mampu memahami Al Qur’an sebagai Hudan lin Nas dan Al Hadits sebagai metode hidup yang telah dicontohkan melalui Rosulullah SAW. Salah satu misil (contoh); Ketika manusia dipercaya untuk memegang kepeminpinan dalam sebuah bentuk kekuasaan, tidak kurang kemudian makna kekuasaan itu bergeser menjadi “Kumawasa” (merasa lebih berkuasa. pen), sehingga dirinya lupa bahwa ada yang lebih berkuasa diluar dirinya yaitu kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa.
Untuk meyakinkan bahwa Al Qur’an adalah Hudan lin Nas (petunjuk bagi manusia), maka disitu ada syarat yang harus dipenuhi oleh setiap manusia yang berharap mendapatkan petunjuk-Nya. Al Qur’an tidak diturunkan kecuali untuk memberi rambu-rambu bagi manusia dalam melaksanakan hidup dan kehidupan di alam dunia ini. Dalam al Qur’anlah Allah SWT memberikan pelajaran-pelajaran, aturan-aturan hidup manusia yang senantiasa komitmen dalam melaksanakan fungsinya sebagai makhluk Allah untuk mengabdi kepada Nya.
Mari kita tela’ah bersama bahwa setiap peristiwa yang akan dan sedang kita hadapi, itu tidak bisa lepas dari apa yang telah Allah gambarkan dalam Al Qur’an. Seperti Firman Allah dalam QS. 7:127 dikatakan :
“Dan berkata pemuka-pemuka kaum Fir’aun : Apakah Engkau biarkan Musa dan Kaumnya berbuat kerusakan di bumi ?”. Dalam ayat selanjutnya QS.7:128 :
Musa berkata kepada kaumnya : “Mintalah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah…”

Dalam kodisi sekarang, kita perhatikan apa yang telah dikatakan oleh George W Bush, mantan Presiden Amerika Serikat kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) : “Apakah Dewan Keamanan PBB akan membiarkan Ummat Islam berbuat “Terror” di muka bumi ini ?”, sedang para pemimpin bangsa Muslim menghimbau kepada ummatnya untuk memohon pertolongan Allah SWT dan bersabar. Ini sebuah bukti bahwa telah terjadi pengulangan sejarah peristiwa-peristiwa manusia masa lalu (zaman para nabi. Pen) dan terjadi pada masa kehidupan manusia sekarang. Pertanyaannya apakah kita masih tetap meragukan isi Al Qur’an, atau justeru kita tidak mau tahu terhadap Al Qur’an. Naudzu billah.
Dalam satu ketika kadang kita tidak merasa bahwa kita adalah bagian dari Islam, ketika ummat Islam dieksploitasi, ketika Ummat islam dipinggirkan dan ketika ummat Islam di cap sebagai kelompok teroris, dengan adanya peristiwa Bom di Bali dan yang terakhir di Jakarta misalnya, bathin kita sempat meng-iyakan dan membenarkannya, padahal dalam suatu persoalan tidak bisa kita melihat dari satu aspek saja, tetapi kita harus mampu menafsirkan dari berbagai dimensi kajian yang terintegrasi dalam sebuah pemahaman global. Dapat kita fahami bahwa di Indonesia pernah ada satu kelompok yang memahami Islam hanya dari satu aspek saja, Jihad difahami harus melalui perlawanan fisik, jihad difahami harus melalui kontak senjata (perang), padahal secara substasial pemahaman jihad dengan makna perang adalah pertama, apabila musuh-musuh Islam itu melakukan intimidasi dan kekerasan kepada ummat Islam yang akhirnya kita diserang, maka disini wajib kita mempertahankannya dengan melakukan perlawanan. Kedua, apabila adanya pelarangan dari kelompok manapun kepada kita untuk melakukan ibadah ritual ummat Islam, maka kita ditantang untuk mendakwahinya supaya mereka faham bahwa dengan ibadah itulah manusia akan dihargai oleh Allah sebagai Tuhannya dsb.
Dalam Islam dikenal ada yang disebut dengan Fiqh Ibadah, Fiqhusy Syiasah , fiqh Muamalah dan fiqh yang lainnya, ini menunjukkan masih banyak hal-hal yang harus kita fahami bersama. Satu penomena di Ummat Islam sekarang ; baru mengetahui beberapa ayat Al Qur’an saja. Kita sudah merasa bahwa kita adalah seorang Ulama, seorang Mujahid Dakwah dan istilah-istilah yang lainnya dan tragisnya kita merasa sebagai manusia yang paling layak (dibandingkan dengan yang lainnya) di hadapan Allah. Pertanyaannya inikah makna kemusliman kita ?.
Seharusnya mari kita tela’ah lagi ; bagaimana langkah dakwah yang harus kita kembangkan agar Islam menjadi (dirasakan oleh ummat manusia) sebuah agama yang “Ya’lu ala yu’la alaih” atau Islam itu adalah sebuah “Harokah” atau pergerakan yang harus memberikan jaminan perlindungan dan keamanan bagi semua makhluk yang tercipta di muka bumi ini, bukan hanya sebuah janji-janji tapi Islam-lah yang akan menjamin keselamatan seluruh ummat manusia baik di dunia maupun di akhirat.
Dalam sejarah penyebaran Islam, kita membaca bahwa perkembangan Islam itu dilakukan dengan cara berperang (Invasi). Wajar Islam dikatakan begitu, karena orang yang diberi kemampuan untuk menulis sejarah adalah “Laisa minal Islam”, tetapi anehnya kenapa ummat Islam tidak menganggap bahwa medalami atau mempelajari ilmu sejarah adalah hal penting. Satu contoh konkrit ada sebuah peperangan yang disebut “Perang Salib” (menurut versi Nashrani), padahal yang terjadi adalah penyerangan yang dilakukan oleh Nashrani terhadap ummat Islam, padahal bila dilihat dari kacamata Islam, peperangan tersebut adalah “Perang Sabil”, ini sebuah penomena.
Maka persoalan-persoalan yang dihadapi ummat islam adalah apa yang digambarkan dalam QS. 7 : 127 tadi bahwa para petinggi-petinggi Fir’aun berkata kepada Fir’aun : Apakah Tuan akan membiarkan Musa dan kaumnya membuat kerusakan di muka bumi ini diakselerasikan dengan ungkapan mantan Presiden Amerika Serikat George W Bush kepada DK PBB : apakah akan kita biarkan Ummat Islam membuat teror di dunia ini ?.
Ada benang hijau yang harus kita urai bersama yaitu : Islam menghadapi tantangan-tantangan dakwah, Islam menghadapi upaya penghancuran yang direncanakan oleh “laisa minal Islam”.
Rasa lebih berkuasa adalah bagian dari fitrah dan kecenderungan yang dimiliki manusia sebagai salah-satu makhluk Allah yang banyak memiliki kekurangan, tetapi apabila kita memahami bahwa kekuasaan adalah sebuah amanah, maka kita akan melaksanakan kekuasaan itu dengan tanggung jawab “lii’laai kalimatillah” seluruh langkah itu hanya didasari niyat untuk Allah semata, tidak ada maksud lain.
Contoh lain ; apabila ada tetangga kita yang luar muslim mengalami musibah, meninggal dunia misalnya, terkadang hati kita sama sekali tidak terketuk untuk melakukan “Ta’jiyah” (bela sungkawa), bahkan menghalalkan sikap seperti di atas, sebab memiliki dalil bahwa : apabila kita bertemu dengan orang Yahudi dan Nashrani di jalan, maka doronglah (mereka) ketempat yang lebih sempit, pertanyaannya apakah sikap tersebut adalah sikap seorang muslim ?. Tidak adakah penghargaan kita terhadap tetangga yang bukan muslim seperti apa yang telah dicontohkan Rosulullah SAW dengan istilah “Min qoriibin baabin” (yang dekat pintu rumahnya) bahwa : “ Tetangga yang bukan muslim memiliki hak dari kita “satu” hak ketetanggaan, tetangga, itu lebih jadi prioritas hidup ketimbang saudara kita yang jauh”.
Ummat Islam sekarang sedang menghadapi gangguan pemahaman, terutama dalam memahami sikap bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Ketika memiliki satu keinginan, mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya, dengan cara mengeksploitasi kekuatan Islam lainnya sekalipun. Padahal persoalan yang dihadapi ummat Islam saat ini adalah bagaimana membangun simpul-simpul kekuatan ummat, sehingga mampu mewujudkan sebuah bangunan yang kokoh dan tertata rapih.
Berat memang, tetapi ini adalah sebuah keharusan bagi ummat yang ingin mengabdikan diri dihadapan Allah SWT. Sering kita melakukan interupsi ketika menghadapi cobaan-cobaan yang diturunkan Allah SWT , bahkan sering kita “lose control”, “kalepasan” atau lepas kendali dengan berkata-kata : “Coban apa lagi ya Allah yang Engkau turunkan kepada kami”, padahal Rosulullah SAW pernah memberikan pelajaran dalam sunnahnya :

“Barang siapa yang ditakdirkan Allah jadi orang yang bijak (baik/terpilih), Allah akan turunkan cobaan kepadanya “(HR. Bukhari).

Hidup dengan cobaan adalah fitrah, sama seperti hidup dengan kesenangan dan kegembiraan, apabila manusia mendapatkan cobaan, maka itu pertanda dia dalam proses kehidupan, begitupun kesenangan.
Ketika ummat Islam ditantang untuk menghadapi kekuatan-kekuatan luar, tidak ada istilah untuk menghindar dari persoalan tersebut, kalau kita ingin digolongkan pada kelompok yang terbaik. Sebaliknya, justeru kita harus merasa aneh apabila ternyata kita tidak mendapatkan kesulitan dan cobaan-cobaan, karena hanya orang yang “kurang normallah” (dengan tidak menyebut istilah gila) yang selamanya meninginkan kesenangan, bahkan tidak kurang masa sekarang ini orang ingin mendapatkan kesenangan dengan cara mengkonsumsi narkoba dll, melalui proses menuju kekurangnormalan (kegilaan).
Allah menegaskan sekali lagi dalam QS. 3 : 200 berbunyi :
“Hai orang-orang yang beriman bersabarlah kalian, dan kuatkanlah kesabaran kalian” (QS. 3 : 200)

Maka difahami bahwa kita diperintahkan untuk bersabar tetapi kita juga ditantang untuk mewujudkan kesabaran itu menjadi wujud kekuatan. Sabar bukan berarti mengalah dari lawan, tetapi sabar adalah memahami tugas dan fungsi sebagai khalifah di muka bumi, senantiasa konsisten dengan apa yang diperintahkan Allah SWT dan Contoh Rosulullah, meski harus mengorbankan nyawa sekalipun. Maka pantas kalau seterusnya dijabarkan oleh Rosulullah SAW dalam sabdanya :

“Orang cerdik adalah orang yang mampu menjaga dirinya dari amal kebaikan untuk bekal setelah mati, sedangkan orang kerdil adalah orang yang hanya mengikuti hawa nafsunya, tetapi mengharap segala macam cita cita kepada Allah SWT“ (HR. Turmudzi).

Ini adalah kesimpulan dari kajian di atas, bagaimana kita menyimpulkan dari nilai sikap hidup manusia. Rosul memberikan dua alternatif : pertama, kalau kita berkeinginan untuk digolongkan kepada kelompok yang cerdik dan terpilih, maka setiap amal kita harus diarahkan untuk bekal setelah mati yang akan kita pertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT, seperti yang telah dikatakan oleh seorang M. Natsir (Tokoh Pendiri Persatuan Islam / PERSIS) : “apabila kita bercita-cita untuk akhirat, maka kita akan mendapatkan dunia, tetapi apabila kita bercita-cita untuk dunia, maka cukuplah pahala yang ia dapatkan di dunia saja”.
Kedua, adalah kelompok yang hanya mengejar keinginan hawa nafsunya saja, tetapi ketika ingin mendapatkan berbagai macam kesenangan, kemakmuran dan perlindungan itu, dirinya tidak malu untuk mengungkapkan dihadapan Allah SWT, seperti yang sering kita lihat dari Wakil-wakil Rakyat yang berada di Lembaga Perwakilan (DPR/MPR RI. Pen) ; “Dalam setiap selesai persidangan, maka mereka meminta perlindungan dan rahmat dari Allah SWT, seperti sering kita dengar kalimat-kalimat : yaa Allah beri kami perlindungan, beri bangsa ini rahmat dan inayah Mu beri bangsa ini jalan untuk keluar dari kesulitan-kesulitan, tetapi ketika ada sebagian kecil ummat yang menyodorkan diterapkannya Syariat Islam, mereka dengan serempak mengeluarkan dalil-dalil untuk menolak keinginan tersebut, ironis memang, tapi ini adalah sebuah kenyataan yang ada di pelupuk mata kita. Wallahu a’lam bish Shawab

FASTABIQUL KHAIRAT

Ketika mendengar tiga kata, “zakat, infak, sedekah” (disingkat ZIS), banyak dari kita yang langsung menganggapnya sebagai sesuatu yang remeh. Jarang yang bersemangat untuk kemudian segera menunaikannya. Adapun yang sadar untuk mengeluarkannya barangkali karena terpaksa untuk sekedar tak disebut kikir. Itupun dikeluarkannya setelah berpikir lebih dari 100 kali. Sebagian besar dari kita seolah masih enggan tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah.
Salah satu sebab mengapa umat islam enggan menunaikan ZIS, karena masih bermental mustahik yang inginnya selalu diberi. Selain itu karena masih tertanamnya paradigma untung-rugi secara materi, yaitu beranggapan bahwa dengan mengeluarkan ZIS hanya akan membuat harta berkurang. Banyak orang islam di negeri ini, yang secara ekonomi termasuk kedalam kelas menengah keatas, enggan memperhatikan persoalan ZIS ini. ZIS dikonotasikan sebagai sesuatu yang sepele, ‘rendahan’, tidak penting, bahkan sia-sia. Ketika ada kotak infak, tangan begitu sulit untuk merogoh uang di saku. Pada saat mendengar kata zakat, yang ada di pikiran adalah zakat fitrah yang dikeluarkan setahun sekali pada bulan ramadhan. Umat islam ternyata belum sepenuhnya sadar akan pentingya berinfak dan bersedekah serta akan kewajiban berzakat. Tentu ini sebuah ironi di negeri yang berpenduduk muslim terbesar di dunia!
Selain belum sepenuhnya umat ini sadar akan perintah agamanya untuk berzakat, berinfak dan bersedekah. Kegiatan menyumbang dengan sukarela saja, harus dipikir berulang-ulang terlebih dahulu. Faktanya, hampir di setiap toko dipasang tulisan besar-besar: YANG NGAMEN GRATIS, atau saat anak jalanan menyanyikan lagu, “semilir angin berhembus…” benar-benar hanya menjadi angin lalu, padahal di kantong masih ada uang yang lebih dari sekedar receh untuk mereka. Hmm, betapa kikirnya yang tak memberi padahal mampu memberi. Alangkah angkuh orang yang tak mau berbagi. Si kaya tak mau berzakat, Si miskin makin banyak. Kaidah kapitalisme rupanya telah berlaku secara nyata: yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin.
Ternyata, masih belum berkurang juga, malah mungkin makin bertambah banyak saja orang kaya di negeri ini yang berpikir materialistis, bahwa berzakat berarti mengurangi harta, bahkan dianggap menyia-nyiakan dan membuang harta.
Padahal dalam ajaraan Islam, Allah SWT akan menjadikan diri kita kaya dengan ZIS yang kita tunaikan. Firman Allah SWT: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa saja yang Dia kehendaki, dan Alllah Mahaluas, lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 261)
Bayangkan, Allah menjanjikan tujuh ratus kali lipat dari setiap harta yang kita keluarkan! Maka tak salah jika Allah telah menyatakan bahwa tidak akan merugi orang-orang yang berniaga dengan Allah. Menginfakkan harta dijalanNya merupakan perniagaan yang tiada akan merugi (tijaaratan lan tabuur).Ia akan selamanya beruntung. Apa yang disedekahkan akan diganti dengan yang lebih baik, bahkan akan ditambah dan dilipatgandakan balasannya dengan surga.(QS Fathir:29-30).
Hal itulah yang memotivasi Umar bin Khattab yang pada saat Perang Tabuk berkecamuk, mendapat seruan untuk berjihad menafkahkan harta dijalan Allah. Dan ia tak berpikir panjang untuk segera menunaikannya. Saat Rasulullah bertanya berapa yang ditinggalkannya untuk keluarga, dengan bangga Umar berkata, “Sebanyak yang aku serahkan pada Allah dan RasulNya.” Namun betapa Umar tercenung manakala pertanyaan yang sama ditujukan Rasul pada rivalnya, Abu Bakar. Jawab Abu Bakar, “Cukuplah Allah dan rasulNya yang aku tinggalkan untuk keluargaku”. Kalimat Abu Bakar membuat Umar bergumam, “Mulai hari ini aku sadar, tampaknya aku takkan pernah bisa mengalahkan Abu Bakar!”.
Subhanallah! Kita amat pantas untuk takjub dengan teladan mereka tentang pentingnya ber-fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam amal kebaikan. Mereka memberi contoh konkrit mengenai arti dari sebuah kompetisi dalam beramal, berjuang dan berkorban demi Allah dan Rasul-Nya. Bahkan, nampak secara tersurat dan tersirat, betapa Umar begitu iri terhadap Abu Bakar.
Maka alangkah tepat Rasululah saat menyatakan bolehnya iri hati atau hasud, “Tidak ada hasud (yang diperbolehkan) kecuali dalam dua perkara, yaitu kepada orang yang diberi harta oleh Allah lalu ia belanjakan pada sasaran yang benar (di jalan-Nya). Dan kepada orang yang dikaruniai ilmu dan kebijaksanaan lalu ia mengamalkan dan mengajarkannya” (HR Bukhari)
Dua hal diatas menjadi parameter sejauh mana seorang muslim memberi manfaat kepada orang-orang yang berada disekitarnya, yaitu dengan harta yang dimiliki serta ilmu yang dipahami.
Akhirnya semua kembali kepada pribadi kita masing-masing, tidakmaukah kita meneladani Rasul yang telah berkurban dengan 100 ekor unta untuk dibagikan kepada para mustahik? tidakkah kita malu dengan harta kita yang kita tahan dari zakat, infak dan sedekah? Tidakkah kita malu dengan Utsman bin Affan yang amat malu kalau hartanya tidak ia nafkahkan di jalan Allah? Utsman telah menginfakkan ribuan unta untuk perang Tabuk. 1000 unta yang penuh muatan makanan ia nafkahkan pada penduduk Madinah pada masa pancaroba, karena ia malu bila hanya ia sendiri yang kekenyangan sementara tetanggga-tetangganya merintih kelaparan. Ustman bahkan sengaja membeli sebuah sumur yang ia wakafkan demi kepentingan islam dan kaum muslimin.
Betapa luarbiasa kedermawanan Rasululah dan para sahabat, yang membuat kita terpekur karena mungkin selama ini kita merasa telah : paling banyak beramal, paling banyak berinfak dan paling banyak berkorban. Padahal bila dibandingkan dengan amal dan pengorbanan Rasul dan para sahabat?
Apalagi kita juga harus berhati-hati dengan sikap kemerasaan itu, karena bisa terjebak kedalam sikap ujub yang menodai, bahkan menghilangkan keikhlasan kita dalam beramal. Oleh karena itu, sebelum terlambat, “Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Tuhan kalian dan kepada surga yang luasnya adalah seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Orang-orang yang berinfak baik di waktu lapang maupun sempit,dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain.Allah menyukai orang orang yang berbuat kebaikan (QS. Ali Imran:133-134).
Wallahu ‘Alam bishawab

NELENGNENGKUNG

NELENGNENGKUNG NELENGNENGKUNG
GEURA GEDE GEURA JANGKUNG
GEURA SAKOLA SING JUCUNG
KA INDUNG MASING NGAJUNGJUNG
Upama seug diimeutan leuwih jero rumpaka (syair) nu diluhur nu sok di hariringkeun ku hiji indung atawa ku kaom ibu anu di masyarakat urang mah nyaeta nalika nyarekeun budak pikeun nganteur buah hatena sare. Komo upama dihariringkeun atawa sok digalindengkeun teh make sora anu lemes, halon sok sanajan heunteu halimpu oge nepi ka mere gambaran semu ngalengis lantaran dihariringkeun make rasa kanyaah, kadeudeuh, kaasih ti anu jadi indung. Lain hartina pedah dihariringkeunana eta lagu, budak anu diayun ambing teh langsung tibra sare, tapi sakurang-kurangna pangaruh tina keukeupan ti indungna oge, eta budak ngarasa tiis tingtrim sarta asa kagugu.
Kabiasaan saperti kitu teh remen dilakonan ku kalangan ibu rumah tangga ka buah hatena anu masih keneh balita tug tepi ka kiwari. Tapi kadieunakeun mah eta kabiasaan teh geus rada ngurangan. Komo di kota mah dina ayana oge jol na lain tinu jadi indung pituin, tapi diganti ku jongos atawa pembantu. Ceuk para sepuh urang, arinyana ngajentrekeun yen saha bae jalmana nu puguh mah tujuan ngaayun ambingkeun ku make rumpaka nelengnengkung teh taya deui miharep sangkan budak teh gancang-gancang sare. Ti mangsa ka mangsa tug tepi ka jaman geus modern saperti ayeuna, eta hariring nelengnengkung teh tetep nganteng teu kalindih ku paneka jaman.
Rumpaka (syair) nelengnengkung anu ngagambarkeun hiji harepan anu masih keneh jauh pisan pikeun kadongkang, hal ieu saolah olah mere hiji atikan atawa pepeling sangkan budak mibanda sifat sabar dina ngudag harepan anu jadi kolotna. Upama hiji indung ngahariring bari ngaayun ambingkeun budak, hana make rumpaka atanapi heunteu, hal ieu bakal mibanda fungsi atawa manpaat pikeun hiji model komunikasi nu mangrupa hubungan batin antara nu jadi indung jeung anak. Kalolobaan literatur/ kapustakaan yen komunikasi antara indung jeung anak dina cara kumaha wae bakal mibanda pangaruh anu positif pikeun numuwuhkeun jiwa si budak, malahan bisa ngagedurkeun sumanget hirupna.
Lian ti eta, ceuk inohong widang pendidikan, kolot nu sok ngahaja ngaayun ambingkeun bari mangdongengkeun jang budakna supaya gancang peureum. Hal ieu teh mangrupa pamahaman anu kacida salahna lamun anu hayang dihontal ku kaom ibu teh saukur miharep sangkan buah hatena gancang-gancang tibra. Padahal dina uteukna masing-masing budak nyampak hiji alat perekam, jadi naon wae anu kadengena, sok komo upama hayoh-hayohan di tepikeun kabudak bakal salilana inget kana eusi carita tur bakal diteundeun dina memorina, tinangtu bakal napel manjang tug ka dewasa. Barudak saumuran balita mah memang kaasup gancang pisan dina nyerep rupaning imformasina teh. Papadaning kitu, carita anu rek di tepikeun ka buah hate teh di upayakeun anu pinilih, nu kebek ku piwurukeun jeung katuladanan.
Saupama nitenan nasehat ‘Ali bin Abi Thalib r.a ngenaan barudak urang, ngenaan sakumaha maranehna lahir pikeun jaman nu baris datang sarta lain jaman nalika urang nepak dada poe ieu. Karasa pisan yen urang kudu ngawangun panempo (visi) hirup maranehna. Urang salaku kolotna diperedih pikeun nyiapkeun atikan maranehna ku atikan anu ngahirupkeun jiwa, nguatkeun tekad, ngagedurkeun sumanget pikeun nyieun kahadean sarta ngasah sikep mental anu unggul pikeun nangtukeun mangsa anu baris dating di dunya ieu, lain mangsa anu baris datang pikeun maranehna wungkul. Urang moal pernah ngarasa cukup lamun ukur minterkeun barudak. Sok komo upama nganukur ngeusian uteukna ku pangaweruh, informasi anu numpuk atawa data anu taya gunana (data Smog, istilah David Shenk mah). Padahal, sabagean gedena mah anu dipitonkeun di sababaraha setasion televise nu aya di urang nyaeta mangrupa runtah atawa “kotoran data” (data smog) sarta lain informasi/ keterangan anu bakal gede manpaatna.
Pangorbanan kaom ibu anu kudu ngakandung salila salapan bulan di barengan ku ripuhna ngandeg kakandungan dua atawa tilu bulan mimiti karasa ayana parobahan rasa dina awakna anu mangrupa mitembeyan tina ripuhna anu ngandung, sirahna mimiti rarieut jeung sarebel, dibarengan ku balalongkengan, tonggongna nyareri. Nalika kandunganana geus gede, kasusah jeung kabingungan beuki nambahan, komo dina mangsa-mangsa bulan alaeun. Kahariwang kana kasalametan dirina jeung anu jadi anakna dina engke mangsa ngalahirkeun tetep jadi tanda Tanya. Hatena dagdigdug tutunggulan bari tetep ngadu’a unggal waktu sangkan jabang bayi anu di kandung na teh lahir kalawan salamet, sabab geus kagambarkeun pisakumahaeun teuing bagja jeung gumbirana boga anak anu baris neruskeun turunana…
Nalika anjog dina mangsa ngalahirkeun datang, karipuh beuki nambahan rasa nyeri anu lain lumayan, nu jadi indung keur narohkeun jiwa raga na antara hirup jeung maot. Tapi sagala karipuh jeung kanyeri leungit tanpa lebih ilang tanpa karana nalika hiji indung ngadenge goarna sora orok, ngadadak tanaga ge datang deui, rasa anu teu pararuguh laleungitan diganti ku kagumbiraan anu moal aya tandingna. Saterusna kudu di tebus ku urang ku atikan/ pendidikan anu sahade-hadena. Hal ieu sangkan satiap budak bisa ngajadikeun pamuka panto sawarga anu kacida luhur ajenna. Teu saeutik waktu anu dibeakeun pikeun nganteur kahayang sangkan buah hatena katingalina pilucueun- ngan sakadar katingali pikalucueun ! sarta ngajadikeun panglipur kalbu pangbeberah manah, pamupus sabada ngarasa cape.
Sabana pangorbanan anu lilana salapan bulan, budak teh lahir dina kaayaan anu masih merlukeun tanaga pikeun ngagugulung anakna, pikiranana di tumplekkeun keur kapentingan anu jadi anak na, pinuh ku kasabaran, sarta kadeudeuh. Mondok kaganggu, istirahat teu kacumponan, aya kalan kasehatan ngilu ka ganggu sarta waktu-waktu anu baris ngahasilkeun pikeun urang kagorogotan, moal kungsi cukup pikewun ngajenan karuni Allah’Azza wa Jalla anu ngaranna anak tea. Upama seug dikersakeun kudu nandangan dipuragaan atawa meunang cocoba ku mangrupa kasusah atawa gering, keun wae poe ieu urang gering atawa susah. Asal urang bisa nganteurkeun barudak kana gapura mangsa pikahareupeun salaku hamba Alloh nu teu weleh sumujud ka manten-Na. naon wae anu aya dina ranggeuman leungeunna, ngan ka Allah inyana ngabdi. Upama seug inyana ngajadikeun solatna, ibadahna sarta laku lampahna, hirupna sarta maotna pikeun Allah, Pangeran Anu Murbeng Alam Sadaya.
Sabada budak nincak umur tujuh poe dibere ngaran anu alus anu mangrupa atikan nu munggaran pikeun nanceubkeun cita-cita kana ngaran arinyana. Tapi ngaran anu alus wungkul heunteu cukup. Kudu aya bekel anu di bikeun ka barudak sangkan kuat jiwana, kaasah pikiranna, jembar hatena, kuat kahayang jeung mentalna sarta sumanget, dina nyangharepan kahirupanana dina mangsa anu baris datang.
Sakadar pinter wungkul tinangtu heunteu cukup upama seug urang hayang nyiapkeun barudak teh mampu ngemban amanah dina jamanna. Sakadar pinter wungkul moal cukup upama seug urang miharep ka barudak teh mampuh ngaranggeum dunya ku leungeunna, sarta nyumponan hatena ku iman ka Allah SWT. Saestuna barudak lahir teh pikeun mangsa anu beda jeung mangsa urang ayeuna.
Kukituna salaku nu jadi kolotna sawadina mekelan elmu anu nyumponan pikeun barudakna. Lamun ngan sakadar mekelan duit sarta ngasupkeun ka sakola unggulan, teu cukup pikeun barudak sangkan jadi manusa anu unggul. Sabab, teu saeutik hal-hal anu teu bisa dibeuli ku duit. Memang duit bisa di pake meuli tempat sare nu empuk, anu mewah, tapi tewu bisa meuli sare anu tibra. Duit bisa dipake meuli imah anu laluasa, tapi teu bisa dipake meuli kaluginaan, katiis katingtriman hate pikeun nyicingan di jero imah eta. Duit bisa dipake meuli televisi LCD anu mewah sarta layarna kacida gedena pikeun ngahibur barudak, tapi teu bisa di pake meuli kajembaran jiwa anu baris mere dukungan nalika arinyana kamomorekeun.
Kacida reana barudak anu rapuh jiwana, padahal arinyana cicing di imah-imah anu alagreng, saligrong. Arinyana kacumponan sagala rupa kahayangna ti nu jadi kolotna, tapi arinyana teu kacumponan rupaning perhatian, kaihlasan sartya kanyaah tur kadeudeuh ti anu jadi kolotna.
Teu saeutik kolot-kolotna anu ngarasa geus mere bekel nu pang alusna ku ngasupkeun barudakna ka sakola unggulan. Padahal, saenyana mah nu dirandapan ku barudak teh keur dilemahkeun jiwana lantaran henteu pernah nyanghareupan tangtangan, pangrojong, pangdeudeul sarta pangajen (apresiasi) anu saimbang.
Sangkan jaga barudak mampu mere warna pikeun jamanna lain diwarnaan, arinyana kudu mibanda rasa percaya diri anu luhur sarta kukuh pengkuh, arinyana kudu mibanda kakuatan pikeun ngagerakkeun tina diri arinyana pikeun jadi pamingpin anu sakurang-sakurangna jadi pamingpin pikeun dirina sarta rumah tanggana, lain jadi tukang ngimpi anu sibuk manjangkeun lamunan.
Sakapeung timbul rasa kahariwang, lamun seug ngingetan ka turunan pikeun nyangharepan poe anu baris dating jeung sakumaha salaku kolot anu di uger ku kamampuh pikeun nyumponan pangabutuhna. Tapi timbul deui kareugreug yen pikeun ngaleungitkeun kamelang kahariwang bisi turunan urang ruksak ahlakna, hirupna balangsak, dawuh Allah falyattaqullah, kudu taqwa ka Allah. Laksanakeun sadaya parentah-Na dumasar kamampuh, singkahan sugrining panyaram-Na satekah polah nyaipkeun sagala upaya pikeun arinyana sangkan urang engke heunteu ka duhung, boh salah paniatan atawa salah lengkah. Waktu jeung tanaga geus loba dibeakkeun, mangka urang sawadina ngalelempeng pendidikan pikeun barudak urang sangkan jadi jalma soleh, anu insya Alloh urang bisa meutik hasilna jaga di akherat. Ceuk ahli hikmah : “ Teu aya kakayaan anu pang utamana kajaba akal, teu aya kasangsaraan anu kacida matak nalangsana kajaba kabodoan, sarta teu aya warisan anu pang agungna tibatan pendidikan”.
“Nun Gusti Pangearan abdi sadaya, mugia pun bojo miwah katurunan abdi sadaya di janteunkeun buah hate, kalihna ti eta mugia abdi sadaya dijanteunkeun pamingpin pikeun jalmi-jalmi anu taqwa” (QS.25 : 74)
“Nun Gusti anu Maha Wisesa, pareumkeun ieu nu ngabebeka dina dada ku hujan kaheman anu rohaka sarta leyurkeun ieu batu dina kalbu ku gada pangriksa nu tohaga”
“Nun Gusti Pangeran anu Maha Welas tur Maha Asih, jumeritna ati abdi sadaya, anu kedal tina manah anu setra, pasti didangu ku Gusti, margi Gusti tara jalir kana jangji, sareng tara cidra subaya”. Aamiin..

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisa ; 59)
Manusia diperintahkan agar mematuhi Allah, mematuhi Rasul dan Ulil Amri, yaitu Umara, Ulama, hakim panglima perang, dan seluruh pemimpin dan yang menjadi tempat kembali manusia dalam keperluan dan kemaslahatan umum. Apabila Ahlulhalli Ubilaqdi dari kaum muslimin telah berijma (sepakat) atas suatu urusan diantara kemaslahatan umum, yang tidak ada ruhnya, di dalam al-Qur’an kemudian didalam hal itu mereka bebas memilih dalam arti tidak dipaksa oleh kekuatan atau wibawa seseorang, maka mentaatinya adalah wajib. Hal ini pernah dilakukan oleh Umar bin Khatthab, ketika bermusyawarah dengan Ahlul-ra’yi dan para sahabat tentang kantor yang didirikannya dan tentang hal ini dari kemaslahatan-kemaslahatan yang diadakannya dengan pendapat Ulil Amri diantara para sahabat.
Walaupun majalah tersebut belum pernah ada pada zaman nabi Muhammad saw. Namun tidak ada seorangpun diantara ulama mereka menentangnya. Jika didalam al-Qur’an dan ash-Shunah tidak ada nash atas hukum, maka Ulil amri mempertimbangkannya karena merekalah orang-orang yang dipercaya. Jika mereka telah sepakat tentang suatu perkara, maka perkara itu wajib dilaksanakan.
Jika kamu berselisih tentang suatu masalah maka hal itu wajib diperiksa didalam kitab dan sunnah dengan kaidah-kaidah umum yang terdapat didalamnya. Jika sesuainya dengan keduanya, itulah yang wajib dilaksanakan, tapi jika bertentangan dengan keduanya, wajib ditinggalkan.
Pengembalian kepada al-Kitab dan ash-Shunah serta penyelesaian perselisihan ini adalah kaidah yang dinamakan qiyah, maka jelas jelas kepada, Fuqahai dalam ulama ushul menetapkan ada empat sumber hukum atau syarat Islam, yaitu al-Qur’an, ash-Shunah, Ijma para Ulil amri ialah Ahlul Halli Ubil Aqdi yang dipercaya oleh ummat dan al-Qiyas. At-Tamazu: berselisih, bertengkar diambil dari kata an-naz’u yang artinya mencabut atau menarik sesuatu. Sebab setiap orang yang bertengkar selalu menarik alasan-alasan yang diajukan oleh lawannya.
Kembalikanlah perkara-perkara yang dipertengkarkan itu kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, dalam ayat ini diisyaratkan bahwa orang-orang yang lebih mengutamakan hawa nafsu dan keuntungan-keuntungan duniawiyah dan pada mengikuti al-Qur’an dan ash-Shunah, orang-orang yang semacam ini bukanlah orang mu’min yang sebenarnya.
Pengembalian segala sesuatu kepada Allah dan Rasul-Nya itu lebih baik bagi kamu, karena hal itu, maka hal itu merupakan ketentuan yang telah ditetapkan Allah. Catatan, selain dasar yang empat itu, maka madhabi mursalat dipergunakan Maliki, istishab dipergunakan madhab Syafi’i. Mengenai bafsir Ulil amri, ulama berbeda pendapat, sebagian menafsirkan; semua pemimpin kaum muslimin termasuk khulafaurrasyiddin raja-raja, presiden, sultan-sultan, hakim, dan lain-lain. Ada pula pendapat lain; komandan perang, semua ulama yang mengeluarkan fatwa tentang hukum. Hukum agama dan mengajari manusia Ulil amri. Menurut ustadz as-Syekh Muhammad Ali As-ys, semua yang disebutkan di atas tidak ada salahnya, karena semua khalifah wajib ditaati. Komandan perang wajib ditaati, selama mereka tidak melakukan ma’shiat. Sebab makhluk yang durhaka kepada khaliqnya telah wajib ditaati/dipatuhi lagi.
Menurut Fakhrur-razi; Ulil amri itu adalah anggota DPR yang selalu bermusyawarah dalam segala hal.
“Umatku tidak akan sepakat untuk melakukan kesesatan.”
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?” dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara Dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai Keuntungan yang besar. dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, Maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (QS. Fushilat; 33-36).
Tidaklah ada orang yang lebih baik kalau dia berkata, melainkan perkataan yang berisi da’wah. Lebih baik lagi, kalau ucapannya itu dirinya pula dengan amalan yang shaleh, perbuatan yang bermanfaat bagi sesama manusia. Jelasnya, tidak ada pekerjaan yang lebih mulia disisi Allah selain melakukan da’wah kepada sesama manusia agar mereka memahami, meyakini kemudian mentaati segala perintah dan ketentuan agama.
Hendaklah para da’I memperteguh diri, memperkuat pendirian, tidak mudah tergoyah oleh apapun, sebab dengan keteguhan hati dan istiqamah itu, akan menghilangkan rasa sedih terhadap apapun yang menimpanya. Dengan bermodalkan keteguhan, pendirian pribadi da’I, da’wah akan berhasil. Dan seorang da’I harus mampu menjadi contoh teladan, karena contoh teladan ilmiah yang mampu mempengaruhi orang lain.

Kemajuan suatu bangsa tidak diukur dari struktur fisik yang berhasil didirikan. Sebab struktur fisik hanyalah produk dari sebuah peradaban. Ia bukanlah hakekat dari peradaban itu sendiri. Kita bisa melihat negara-negara Arab yang saat ini memiliki bangunan-bangunan fisik yang sangat megah dan menakjubkan, tetapi mereka tidak dikenal sebagai negara yang memiliki peradaban yang maju. Sebab bangunan-bangunan fisik itu tidak dibangun dari tradisi ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang mereka miliki. Mereka hanya membelinya dengan sumber daya alam minyak yang sangat berlimpah di bumi mereka. Kita pun bisa melihat peradaban Romawi yang sekarang tinggal puing-puing sejarah saja. Meski bangunan fisiknya yang megah itu masih bisa kita lihat, namun ia hanyalah puing-puing tak bernyawa. Ia tak memiliki pancaran kehidupan lagi. Ibarat raga yang sudah kehilangan ruhnya, peradaban mereka telah mati.
Maka, bangunan sebuah peradaban sesungguhnya terletak pada manusia-manusianya. Manusialah yang membangun sebuah peradaban. Manusia pula yang mempertahankan dan menjadikannya tetap hidup, bukan bangunan atau struktur fisiknya. Kehancuran dan kemundurannya pun demikian. Ia disebabkan oleh ketidakmampuan manusia-manusianya untuk menjaga peradabannya.
Makna Peradaban
Peradaban berasal dari kata bahasa Arab, yaitu ‘adab’, yang artinya kebaikan yang sempurna dan menyeluruh, baik itu spiritual maupun material. Syed Naquib al-Attas, penggagas Islamisasi ilmu dari Malaysia, memaknai orang beradab sebagai berikut,
Orang yang beradab adalah, orang yang menyadari sepenuhnya tanggung jawab dirinya kepada Tuhan; yang memahami dan menunaikan keadilan terhadap dirinya sendiri dan orang lain dalam masyarakatnya; yang terus berupaya meningkatkan setiap aspek dalam dirinya menuju kesempurnaan sebagai manusia yang beradab.
Walaupun berasal dari bahasa Arab, namun orang-orang Arab (Islam) menerjemahkan istilah peradaban sebagai Tamaddun. Istilah ini berasal dari kata da-ya-na yang bermakna hutang. Dr. Hamid Fahmy, pendiri INSIST (Institute for The Study of Islamic Thought and Civilization), menjelaskan bahwa konsep tamaddun, tak bisa dilepaskan dari din (agama), sebab ia berasal dari akar kata yang sama. Maka dalam Islam, peradaban lahir dari agama dan merupakan konsekuensi dari keberhutangan manusia kepada Allah swt yang telah menganugerahkan segala nikmat kepadanya.
Dari dua makna di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa peradaban adalah segala sesuatu yang lahir dan hidup dari cara pandang serta budaya orang-orang yang beradab, sebagai konsekuensi dari keberhutangan mereka kepada Tuhannya. Artinya, peradaban tidak bisa dilepaskan dari keberagamaan orang-orangnya. Ia lahir dan tumbuh dalam cakupan maknanya. Peradaban Islam tidak bisa dilepaskan dari konsep din dan ibadah kepada Allah swt. Begitu pula peradaban lain, ia tidak bisa dilepaskan dari konsep agama dan peribadatannya. Peradaban Romawi tidak bisa lepas dari kristennya. Peradaban Mesir kuno tak bisa dilepaskan dari paganisme (penyembahan terhadap tuhan-tuhan buatan). Peradaban India tak bisa dilepaskan dari agama Hindu, dan lain-lain.
Peradaban Islam Masa Kini
Sebagaimana dibahas sebelumnya, peradaban Islam tidak bisa dilepaskan dari konsep ibadah kepada Allah swt. Maka, ia lahir dari ajaran-ajaran yang tertuang dalam al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw. Kemajuan dan kemundurannya tak lepas dari hubungan atau interaksi kaum muslimin dengan keduanya. Jika ingin maju, berpeganglah kepada keduanya. Jika mundur, itu artinya kaum muslimin telah meninggalkan keduanya. Hal ini sesuai dengan wasiat Rasulullah saw dalam khutbah wada di Arafah,
“Hai manusia, sesungguhnya aku telah tinggalkan untuk kalian dua hal yang jika kamu berpegang kepada keduanya, kamu tidak akan tersesat selamanya: Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya”. (HR. al-Hakim)
Syakib Arselan dalam buku ‘limadza taakharal muslimun wa taqaddama ghairuhum’ (mengapa umat Islam mundur dan yang lainnya maju), menyimpulkan bahwa orang-orang Barat maju karena mereka meninggalkan agama, sedangkan umat Islam maju apabila mereka berpegang kepada agamanya. Jelaslah kiranya, apabila umat Islam ingin maju, ia harus kembali kepada ajaran Islam.
Namun, kondisi umat Islam yang saat ini tertinggal dari negara Barat, sungguh jauh berbeda dengan keadaan ideal yang seharusnya dicapai. Dalam bidang ilmu pengetahuan dan capaian-capaian teknologi, umat Islam cukup jauh tertinggal. Begitu pula dalam bidang-bidang yang lainnya. Umat Islam saat ini gagal membangun sebuah peradaban yang maju. Padahal dahulu umat Islam pernah berhasil mendirikan bangunan peradaban yang teramat kokoh dan megah, bahkan tidak mampu diikuti oleh umat mana pun saat itu. Kondisi ini tentu harus dicari jalan keluarnya.
Hakekatnya, kemajuan peradaban selalu berkaitan dengan maju mundurnya budaya keilmuan. Kemajuan yang dicapai Barat saat ini tak lepas dari budaya ilmu yang berkembang lebih dahulu. Penemuan-penemuan baru dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengantarkan Barat kepada dominasi di segala bidang. Bahkan, penjajahan kepada berbagai negara di asia dan afrika merupakan kelanjutan dari penemuan-penemuan itu. Kemajuan ilmu pengetahuan membutuhkan sokongan dana yang sangat kuat melalui sumber daya alam yang kaya. Dan sumber daya alam itu tidak dimiliki Barat. Maka selain tujuan politik dan ekonomi, pengembangan ilmu pengetahuan menjadi salah satu alasan Barat menjajah negara-negara lain.
Sesungguhnya Islam telah memberikan pondasi yang teramat kokoh untuk meraih kemajuan tersebut. Ayat yang pertama kali Allah swt turunkan, secara langsung memerintahkan kepada umat manusia untuk membaca. Belum lagi jika kita lihat ayat-ayat lain yang secara tegas mengingatkan manusia untuk menghindari kebodohan dan mendorong untuk mencari ilmu. Kalimat-kalimat seperti ‘mengapa kamu tidak berpikir, mengapa kamu tidak mempergunakan akal, dan lain-lain’ sering kita dapati dalam al-Quran. Di dalam hadits pun seperti itu. Rasulullah saw menyebutkan bahwa menuntut ilmu hukumnya wajib bagi setiap muslim (HR. Ibnu Majah).
Dengan pondasi ini, seharusnya umat Islam mampu membangun peradaban yang sangat maju. Namun kenyataan tak seindah harapan.
Solusi Pendidikan Islam
Di awal telah sedikit dibahas bahwa membangun peradaban adalah membangun manusia-manusianya. Menciptakan manusia-manusia yang menyadari sepenuhnya tanggung jawab dirinya kepada Tuhan; yang memahami dan menunaikan keadilan terhadap dirinya sendiri dan orang lain dalam masyarakatnya; yang terus berupaya meningkatkan setiap aspek dalam dirinya menuju kesempurnaan sebagai manusia yang beradab.
Manusia-manusia beradab ini hanya bisa lahir dari sistem pendidikan yang Islami. Sistem pendidikan yang berdiri di atas pondasi Tauhid yang kokoh dan tak lekang oleh waktu. Sistem pendidikan yang tidak memisahkan dirinya dari agama. Sistem pendidikan yang tidak hanya mendidik akal dan keterampilan, tetapi juga mendidik jiwa. Sistem pendidikan mencetak generasi ulama cendekiawan yang takut kepada Allah, bukan menentang hukum-hukum Allah.
Untuk membangun sistem pendidikan yang Islami ini diperlukan perhatian dari seluruh umat Islam. Sebab sistem pendidikan ini tidak akan meraih keberhasilan yang diinginkan jika tidak didukung oleh unsur-unsur sekelilingnya. Sebaik apa pun sistem pendidikan, jika kondisi masyarakat tidak mendukung akan membuat beberapa bagiannya rapuh. Dan bagian yang rapuh ini akan menyebabkan rusaknya bagian yang lain. Oleh karena itu, dukungan lingkungan dan seluruh komponen masyarakat sangat dibutuhkan, demi tercapainya bangunan peradaban yang maju.
Dalam tafsir al-Kabir, saat menjelaskan ayat ke 31 dari surat al-Baqarah, Imam Fakhrurazi menyebutkan sebuah hadits Rasulullah saw berikut,
“Jadilah kamu orang mengajarkan ilmu, atau orang yang mencari ilmu, atau orang yang mendengarkan ilmu, atau orang yang mencintai ilmu. Dan janganlah kamu menjadi golongan yang ke lima, sebab kamu akan celaka.”
Hadits ini menegaskan keharusan setiap orang berperan dalam pembangunan peradaban ilmu itu. Dan pilihannya hanya ada empat. Pertama, menjadi pengajar yang membagikan ilmu. Kedua, menjadi penuntut ilmu yang tekun dan serius. Ketiga, menjadi pendengar ilmu di waktu-waktu senggang bagi orang yang sibuk. Dan terakhir, menjadi pecinta ilmu dengan membantu orang lain dalam mencari ilmu, baik dengan memberi bantuan harta atau hal yang lainnya.
Lalu, menjadi golongan yang manakah kita?

Prof. Hasan Hanafi, dalam kitabnya Muqaddimah fi al-‘Ilmi al-Istighrab, mengajukan sebuah pertanyaan yang membuat umat Islam terhenyak: “Mengapa gerakan pembebasan tanah air berhasil melepaskan diri dari penjajahan militer tetapi gagal mempertahankan kemerdekaaan ekonomi, politik, kebudayaan dan peradaban?
Anjar Nugroho, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah, menyatakan bahwa penjajahan baru ini adalah upaya penggeseran nilai-nilai Islam dengan nilai Barat. Caranya dengan menjajah pemikiran umat Islam sehingga terkikislah nilai-nilai luhur kebudayaan lokal, identitas bangsa yang semuanya berbasis ajaran agama. Dengan kata lain, ajaran Islam dalam kehidupan Muslim telah digeser oleh nilai-nilai universal Barat semisal demokrasi, Hak Asasi Manusia, liberalisasi, civil sosiety dan sebagainya.
Menurut Dr. Natsir Mahmud, akarnya telah ada semenjak jaman Perang Salib dahulu. Pastor-pastor Kristen Barat sering mengadakan studi tour ke Andalusia untuk mempelajari Islam. Motifnya tiada lain adalah kebencian terhadap agama yang melahirkan kemajuan (Islam) dan selalu menentang doktrin-dotrin agama mereka (Yahudi dan Nasrani).
Persinggungan Barat dengan Islam itu pada akhirnya bisa mengeluarkan mereka dari abad kegelapan (Dark Ages) kepada abad pencerahan (Renaisance). Melalui abad penterjemahan, Barat telah mampu mentransformasikan ide, konsep dan teori yang bersumber dari Islam ke dalam pandangan hidup Barat yang merupakan campuran dari Yunani, Romawi, Yahudi, Kristen dan tradisi-tradisi lainnya. Lebih jauh lagi, ide, konsep dan teori-teori itu mereka letakan dalam pandangan hidup mereka yang sekuler.
Yang lahir dari pandangan hidup sekuler adalah kebenaran yang sekuler pula. Tiada kebenaran yang hakiki, kebenaran adalah apa yang benar menurut manusia di masa dan tempat mereka hidup, paham ini disebut Relativisme. Ukuran kebenaran bukan lagi Tuhan, tetapi manusia alias humanisme. Akhirnya, manusia menjadi tuhan yang berhak mengotak atik kebenaran semaunya. Manusia adalah pusat kehidupan.
Dari paham ini manusia menghendaki kebebasan untuk diri mereka sendiri. Bebas untuk tidak tunduk kepada apa dan siapa pun (liberalisme). Menurut H. Gruber, prinsip mereka yang paling mendasar adalah pernyataan bahwa tunduk kepada otoritas apapun adalah bertentangan dengan dengan hak asasi, kebebasan dan harga diri manusia, yakni otoritas yang akarnya, aturannya, ukurannya, dan ketetapannya ada di luar dirinya.
Setiap individu akhirnya melepaskan diri dari agama (atheisme), sebab menurut mereka, agama adalah penghalang kebebasan berpikir dan kemajuan. Orientalisme yang lahir dari gereja, akhirnya mendurhakai orang tuanya sendiri. Awal mula kebencian terhadap gereja lahir dari para ilmuwan. Ilmu pengetahuan yang sebelumnya harus tunduk kepada doktrin Bible dirombak secara besar-besaran. Ilmu pengetahuan harus bebas dari segala doktrin, nilai, aturan dan pretensi apa pun. Lahirlah ilmu pengetahuan yang lepas dari moralitas. Apapun boleh dilakukan demi dan atas nama ilmu pengetahuan.
Lalu, gugatan selanjutnya datang dari kaum perempuan. Bible menganggap perempuan sebagai sumber kejahatan, biang malapetaka, pembawa sial, penyebab manusia terusir dari sorga, mereka tak beda dengan ular atau setan bertanduk. Dari sini, perempuan tidak memiliki kesempatan bekerja, mendapat pendidikan, hak pilih dan lain-lain. Kehidupan mereka dibatasi oleh dinding rumah. Sehingga lahirlah gerakan feminisme yang menuntut persamaan hak bagi kaum perempuan di segala bidang kehidupan. Meskipun awalnya lebih kepada motif ekonomi, gerakan ini akhirnya menyentuh pada doktrin-doktrin yang lebih mendasar. Gereja dituntut untuk menafsir ulang bahkan membuat Bible yang lebih ramah perempuan.
Kebencian terhadap gereja yang menindas kebebasan, penuh doktrin, membatasi kemerdekaan dan hanya menguntungkan para pendeta, menimbulkan nasionalisme tanpa agama. Pecahlah pemberontakan terhadap gereja. Gereja dipaksa untuk melepaskan pengaruhnya dari dunia sosial-politik. Gereja harus dilepaskan, tak hanya dari kehidupan individu, juga dari kehidupan sosial-politik. Munculnya negara-negara republik menggantikan kerajaan-kerajaan tidak terlepas dari doktrin kebebasan (liberalisme).
Kemajuan Barat yang tanpa agama itu, menimbulkan keserakahan. Mereka mencari negara-negara makmur di timur untuk dikeruk kekayaannya. Imperialisme menjadi tren baru bagi negara-negara di Barat semisal Inggris, Belanda, italia, Spanyol dan lain-lain. Untuk melanggengkan kekuasaan mereka atas negara-negara jajahannya itu, dilakukanlah studi-studi terhadap ajaran-ajaran agama timur (orientalisme).
Studi orientalisme di bawah kepemimpinan Napoleon Bonaparte menjadi perintisnya. Penjajahan Perancis ke Mesir, diboncengi puluhan sarjana dari berbagai bidang keilmuan. Tradisi Bonaparte ini akhirnya ditiru oleh negara Barat yang lain. Basil Musallam, profesor di Universitas Pennsylvania menyatakan bahwa orientalisme adalah kepanjangan tangan dari imperialisme (penjajahan), dan penjajahan selalu diiringi orientalisme. Amien Rais mengamini hubungan imperialisme dengan orientalisme ini dalam bukunya Cakrawala Islam.
Dari Orientalisme inilah penjajahan pemikiran dimulai. Mereka mengekspor segala macam pemikiran mereka ke negara-negara jajahan mereka, terutama negara-negara Islam. Tujuannya agar kaum muslimin tetap tunduk kepada mereka, meskipun negaranya telah merdeka secara politik.
Muncullah para pemikir Barat yang menafsirkan Islam dengan sudut pandang Barat. Mereka membongkar penafsiran al-Quran dan Hadits, tanpa berpijak pada ilmu alQuran dan hadits yang bersumber dari khazanah pemikiran Islam. Tokoh-tokoh semacam Alphonse Mingana, Gustaf Flugel, Theodore Noldeke, Arthur Jeffery dan lain-lain mencoba menafsir ulang al-Quran. Lalu Alois Sprenger, Ignaz Goldziher, Josep Schacht, Gauthier Juynboll meragukan kedudukan hadits sebagai sumber hukum kedua sesudah al-Quran. Selain itu, mereka pun membedah Islam dengan pisau barat. Membedah syari’ah, Fiqih, Ushul Fiqih dan lain-lain. Mereka memelintir pendapat para ulama muslim untuk mendukung pemikiran mereka.
Usaha-usaha yang lain yang mereka lakukan adalah dengan mendirikan pusat-pusat studi Islam di negara mereka, lalu mengundang dan menawarkan beasiswa-beasiswa yang menggiurkan kepada anak-anak yang cerdas untuk belajar di sana mengikuti metodologi versi mereka. Fasilitas materi, perpustakaan, laboratorium dan berbagai fasilitas yang mewah, membuat banyak mahasiswa Islam secara tidak sadar (atau pun sadar), mengikuti jejak orientalis dalam memandang Islam.
Dari usaha yang kedua inilah bahaya lebih besar muncul. Jika di awal, gugatan itu datang dari luar Islam, maka yang kedua ini gugatan terhadap Islam muncul dari dalam tubuh umat Islam sendiri. Sehingga keresahan pada umat Islam muncul lebih dahsyat dari sebelumnya.
Isu liberalisme, pluralisme, sekularisme, feminisme yang awalnya lahir dari Bible yang memang mengandung masalah, kini ditularkan kepada Islam yang sebenarnya tidak mengandung masalah-masalah itu. Mereka menghendaki agar Islam ditundukan kepada akar filsafat dan cara berpikir Barat.
Maka muncullah para penggugat Islam semisal Nasr Hamid Abu Zayd, Syahrur, Arkoun, Fatima Mernissi, Amina Wadud dan lain-lain, yang notabene adalah muslim namun telah mewaris cara berpikir Barat. Mereka mengagumi paham-paham impor lebih dari mutiara-mutiara ilmu yang lahir dari ulama-ulama muslim, bahkan Nabi saw pun mereka ragukan. Tak hanya sampai situ, Allah swt dan al-Quran pun mereka gugat.
Usaha lebih rapi lagi telah dilakukan untuk melepaskan umat Islam dari aturan-aturan Islam yang benar. Setelah memperbanyak pemikir-pemikir dan pengajar-pengajar muslim yang dibaratkan, mereka berupaya agar paham-paham mereka itu menjadi pedoman dalam pengajaran yang dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan Islam.
Dan usaha-usaha mereka telah menemukan hasilnya. Sebagai contoh, hermeneutika sebagai metode tafsir Bible, telah resmi menjadi metode tafsir al-Quran yang wajib diajarkan di beberapa universitas Islam, negeri atau pun swasta. Salah satunya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Bahkan, dalam kurikulum Fiqih untuk Pendidikan Dasar dan Menengah, isu gender pun telah disuarakan. Hak azan dan imam shalat bagi perempuan, penyamaan hak waris, wali nikah, memberi mahar, batasan aurat dan lain-lain telah menjadi isu pokok. Multikulturalisme yang berakar dari pluralisme pun telah dijadikan pendekatan resmi dalam pengajaran di tingkat Pendidikan Dasar sampai Perguruan Tinggi.
Semua ini tak lain adalah bukti bahwa imperialisme pemikiran Barat terus menerus diarahkan kepada umat Islam. Inilah tantangan terbesar yang dihadapi umat Islam saat ini: penjajahan pemikiran.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.